Jumat, 28 Juli 2017

MENULIS SEBAGAI BUKTI SEJARAH OTENTIK MASA DEPAN

                                              Oleh: Muhammad Fadhil
Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang perlu dikuasai dengan baik oleh setiap orang, terutama bagi civitas akademik. Para civitas akademik adalah kaum intelektual yang harus mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (iptek) demi kemajuan bangsa. Segala bentuk pengembangan iptek yang dihasilkan tidak akan ada artinya apabila tidak didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Sehebat apapun mahakarya yang dihasilkan seseorang, bila tidak didokumentasikan dalam bentuk tulisan, hanya akan menjadi cerita lisan sesaat yang akan segera dilupakan pada masa-masa berikutnya. Oleh sebab itulah, kemampuan menulis menjadi hal yang sangat penting.
Pada kenyataanya banyak dari sekitar kita yang tidak mampu atau bahkan sama sekali tidak menyukai kegiatan menulis. Kenyataan buruk itu dapat disebabkan oleh berbagai hal, Salah satu penyebabnya adalah ketidaktahuan tentang seluk-beluk menulis, dan kurang  memahami sejarah kejayaan Islam melalui menulis.
Peradaban Islam semakin jaya ketika para ilmuan mengemukakan pendapatnya tentang sebuah makna dari sebuah peristiwa yang terjadi sekitar masyarakat setempat untuk dapat digunakan untuk  menyelesaikan sebuah permasalahan dengan cara menulis. Tempat menemukan sebuah jawaban dari para ilmuan dahulu melalui sebuah tulisan yang telah di susun secara sistematis dan praktis di dalam sebuah karangan mereka dapat kita jumpai pada buku buku klasik.
Sebagaimana kita pahami bersama bahwa salah satu cara mengenang sebuah ilmu pengetahuan yakni dengan cara mengaplikasikan metode menulis.
Menurut Eric Gould, Robert DiYanni, dan William Smith, menulis adalah perilaku kreatif, perilaku menulis kreatif karena membutuhkan pemahaman atau merasakan sesuatu: sebuah pengalaman, tulisan, peristiwa.

      Perintah untuk menulis di dalam alquran memang banyak, tetapi jika dibandingkan dengan perintah untuk membaca,berfikir, dan menggunakan akal secara kuantitatif jumlahnya lebih sedikit. Sedikitnya, perintah menulis,bukan berarti kegiatan menulis menjadi tidak penting. Sebaliknya, sedikitnya perintah menulis itu seharusnya lebih memotivasi umat Islam untuk lebih giat menulis sebagaimana yang dilakukan oleh ulama-ulama besar dahulu seperti Imam al-Ghazali.
      Di dalam alquran Allah memerintahkan secara tegas agar manusia mencatat segala bentuk mu’amalah yang dilaksanakannya degan orang lain, sebagaimana yang termaktub dalam Firman Allah:
يَايُيُهَا الَذِينَ اَمَنُوا اِذَا تَدَا يَنْتُمْ بِدَينٍ اِلىَ اَجَلٍ مُسَمًى فَا كْتُبُوْهُ........                                                    
Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…” (Al-Baqarah: 282). Bahkan dalam ayat lain Allah bersumpah demi pena dalam tulisan dalam Firma Nya: “ Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis”. (Al-Qalam;1).
      Ini berarti bahwa menulis adalah suatu perbuatan yang diperintahkan Allah sebagaimana perintah untuk membaca. Bahkan kalau anda berpikir lebih jauh, perintah untuk menulis seharusnya lebih awal adanya daripada perintah untuk membaca, karena tidak ada bacaan jika tidak ada tulisan dan tidak ada sesuatu yang dapat dibaca jika tidak ada yang menulis. Karena itu, perintah menulis tidak jauh lebih rendah posisinya dibandingkan perintah untuk membaca.
      Kalau kita telusuri, perintah menulis di dalam alquran terdiri dari tiga akar kata,yaitu kata pena (qalam) yang terdapat di dalam Surat Iqra Ayat 4:
                                                                                                              بِالْقَلَمْ  عَلَمَ اَلذِي
Artinya: “Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam”.
      Di dalam tafsir maksudnya adalah orang yang menulis pertama menggunakan pena adalah Nabi Idris AS. Dengan tulisan akan diketahui hal-hal yang tidak tampak. Ayat ini memberitahukan kita tentang kelebihan dari menulis karena pada menulis sangat besar manfaatnya. Alasannya, dengan tulisan ilmu menjadi kekal dan terpelihara, hukum hukum terbukukan dan bisa diketahui berita-berita orang terdahulu, keadaan mereka, sejarah mereka dan ucapan mereka.
Konsep menulis  juga sudah dilaksanakan setelah masa Rasulullah wafat yakni pada masa khalifah Utsman Bin Affan ketika banyak para penghafal Alquran yang gugur dalam peperangan yamamah,nah dari sini timbul inisiatif Usman Agar Alquran itu dapat dibukukan agar tidak hilang, maka dituliskan ke dalam bentuk Alquran yang telah tersusun secara sistematis dan  kita kenal sekarang yakni Mushaf Utsmani. Coba kita bayangkan, seandainya Alquran tidak pernah ditulis, bisa-bisa hilang ditelan masa dan akan terjadi distorsi kitab suci ini.
Imam  Al-Ghazali mengatakan, “Kalau kamu bukan anak raja, dan kamu bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis”. Hampir senada dengan itu Sayyid Qutbi, seorang ilmuwan yang juga sastrawan dan pemikir dari Mesir pernah mengungkapkan bahwa, “Peluru hanya bisa menembus satu kepala, tetapi tulisan bisa menembus jutaan kepala.” Sedang di dalam negeri sendiri, Pramoedya Ananta Toer juga pernah berucap, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Mari kita flashback tentang sejarah perjuangan para “founding father” negeri ini seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, atau yang lain dapat dijadikan pembelajaran bagaimana perjuangan di awal terbentuknya negeri ini, salah satunya dengan menulis.
Mereka dipenjarakan dan diasingkan jauh dari daerah tempat mereka tinggal, namun demikian tidak mematahkan semangat mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dan salah satunya yaitu menghasilkan karya tulis.
Karya-karya mereka akan menjadi bukti untuk masa kini yang dituangkan dan abadikan dalam bentuk tulisan, buku, dan dokumentasi lainya dan akan menjadi warisan para pejuang Indonesia. Hal itu terjadi secara bersiklus yang terus bergulir, kita yang hidup di masa kini merupakan pemegang tongkat estafet yang nantinya pun akan kita mewariskan kepada generasi berikutnya. Salah satunya caranya yaitu melalui kata-kata dan naskah tulisan yang kita hasilkan pada saat ini. Semakin aktif dan banyak kita menghasilkan karya dalam bentuk tulisan maka semakin banyak yang akan kita wariskan kepada generasi selanjutnya, begitu juga sebaliknya.
 Maka tidak salah kalau dikatakan dengan menulis kita bisa membangun sebuah sejarah peradaban yang sangat otentik dan akan dikenang sepanjang abad.Tulisan kita akan dibaca oleh banyak orang, kemudian diajarkan kepada orang sehingga nama kita terdengar keseluruh masyarakat Indonesia.

Mahasiswa Jurusan Hukum keluarga Islam IAIN Lhokseumawe semester 4
Ketua Umum HmI Komisariat Syariah IAIN Lhokseumawe
Alumni SPMA Lhokseumawe


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HPN 2019

Selamat Hari Pers Nasional 2019