Oleh: Muhammad Fadhil
Menulis
merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang perlu dikuasai dengan baik
oleh setiap orang, terutama bagi civitas akademik. Para civitas akademik adalah
kaum intelektual yang harus mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan
seni (iptek) demi kemajuan bangsa. Segala bentuk pengembangan iptek yang
dihasilkan tidak akan ada artinya apabila tidak didokumentasikan dalam bentuk
tulisan. Sehebat apapun mahakarya yang dihasilkan seseorang, bila tidak
didokumentasikan dalam bentuk tulisan, hanya akan menjadi cerita lisan sesaat
yang akan segera dilupakan pada masa-masa berikutnya. Oleh sebab itulah,
kemampuan menulis menjadi hal yang sangat penting.
Pada kenyataanya
banyak dari sekitar kita yang tidak mampu atau bahkan sama sekali tidak menyukai kegiatan menulis.
Kenyataan buruk itu dapat disebabkan oleh berbagai hal, Salah satu penyebabnya
adalah ketidaktahuan tentang seluk-beluk menulis, dan kurang memahami sejarah kejayaan Islam melalui menulis.
Peradaban Islam
semakin jaya ketika para ilmuan mengemukakan pendapatnya tentang sebuah makna
dari sebuah peristiwa yang terjadi sekitar masyarakat setempat untuk dapat
digunakan untuk menyelesaikan sebuah
permasalahan dengan cara menulis. Tempat menemukan sebuah jawaban dari para
ilmuan dahulu melalui sebuah tulisan yang telah di susun secara sistematis dan
praktis di dalam sebuah karangan mereka dapat kita jumpai pada buku buku
klasik.
Sebagaimana kita
pahami bersama bahwa salah satu cara mengenang sebuah ilmu pengetahuan yakni
dengan cara mengaplikasikan metode menulis.
Menurut
Eric Gould, Robert DiYanni, dan William Smith, menulis adalah perilaku kreatif,
perilaku menulis kreatif karena membutuhkan pemahaman atau merasakan sesuatu:
sebuah pengalaman, tulisan, peristiwa.
Perintah untuk menulis di dalam alquran memang banyak, tetapi
jika dibandingkan dengan perintah untuk membaca,berfikir, dan menggunakan akal
secara kuantitatif jumlahnya lebih sedikit. Sedikitnya, perintah menulis,bukan berarti
kegiatan menulis menjadi tidak penting. Sebaliknya, sedikitnya perintah menulis
itu seharusnya lebih memotivasi umat Islam untuk lebih giat menulis sebagaimana
yang dilakukan oleh ulama-ulama besar dahulu seperti Imam al-Ghazali.
Di dalam alquran Allah memerintahkan secara tegas agar manusia
mencatat segala bentuk mu’amalah yang dilaksanakannya degan orang lain,
sebagaimana yang termaktub dalam Firman Allah:
يَايُيُهَا الَذِينَ اَمَنُوا اِذَا تَدَا يَنْتُمْ بِدَينٍ اِلىَ اَجَلٍ
مُسَمًى فَا كْتُبُوْهُ........
Artinya: “ Hai orang-orang yang
beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang
ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…” (Al-Baqarah: 282). Bahkan dalam ayat lain Allah
bersumpah demi pena dalam tulisan dalam Firma Nya: “ Nun, demi pena dan apa
yang mereka tulis”. (Al-Qalam;1).
Ini berarti bahwa menulis adalah suatu perbuatan yang
diperintahkan Allah sebagaimana perintah untuk membaca. Bahkan kalau anda
berpikir lebih jauh, perintah untuk menulis seharusnya lebih awal adanya
daripada perintah untuk membaca, karena tidak ada bacaan jika tidak ada tulisan
dan tidak ada sesuatu yang dapat dibaca jika tidak ada yang menulis. Karena
itu, perintah menulis tidak jauh lebih rendah posisinya dibandingkan perintah
untuk membaca.
Kalau kita telusuri, perintah menulis di dalam alquran terdiri
dari tiga akar kata,yaitu kata pena (qalam) yang terdapat di dalam Surat Iqra
Ayat 4:
بِالْقَلَمْ
عَلَمَ اَلذِي
Artinya: “Yang mengajar (manusia) dengan perantaran
kalam”.
Di dalam tafsir maksudnya adalah orang yang menulis pertama
menggunakan pena adalah Nabi Idris AS. Dengan tulisan akan diketahui hal-hal
yang tidak tampak. Ayat ini memberitahukan kita tentang kelebihan dari menulis
karena pada menulis sangat besar manfaatnya. Alasannya, dengan tulisan ilmu
menjadi kekal dan terpelihara, hukum hukum terbukukan dan bisa diketahui
berita-berita orang terdahulu, keadaan mereka, sejarah mereka dan ucapan
mereka.
Konsep menulis juga sudah dilaksanakan setelah masa
Rasulullah wafat yakni pada masa khalifah Utsman Bin Affan ketika banyak para
penghafal Alquran yang gugur dalam peperangan yamamah,nah dari sini timbul
inisiatif Usman Agar Alquran itu dapat dibukukan agar tidak hilang, maka
dituliskan ke dalam bentuk Alquran yang telah tersusun secara sistematis
dan kita kenal sekarang yakni Mushaf
Utsmani. Coba kita bayangkan, seandainya Alquran tidak pernah ditulis,
bisa-bisa hilang ditelan masa dan akan terjadi distorsi kitab suci ini.
Imam Al-Ghazali mengatakan, “Kalau
kamu bukan anak raja, dan kamu bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah
penulis”. Hampir senada dengan itu Sayyid Qutbi, seorang ilmuwan yang juga
sastrawan dan pemikir dari Mesir pernah mengungkapkan bahwa, “Peluru hanya bisa
menembus satu kepala, tetapi tulisan bisa menembus jutaan kepala.” Sedang di
dalam negeri sendiri, Pramoedya Ananta Toer juga pernah berucap, “Orang boleh
pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam
masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Mari kita flashback tentang sejarah perjuangan para “founding father”
negeri ini seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, atau yang lain dapat dijadikan
pembelajaran bagaimana perjuangan di awal terbentuknya negeri ini, salah
satunya dengan menulis.
Mereka dipenjarakan dan diasingkan jauh dari daerah tempat mereka tinggal,
namun demikian tidak mematahkan semangat mereka dalam memperjuangkan
kemerdekaan negeri ini dan salah satunya yaitu menghasilkan karya tulis.
Karya-karya mereka akan menjadi bukti untuk masa kini yang dituangkan dan
abadikan dalam bentuk tulisan, buku, dan dokumentasi lainya dan akan menjadi
warisan para pejuang Indonesia. Hal itu terjadi secara bersiklus yang terus
bergulir, kita yang hidup di masa kini merupakan pemegang tongkat estafet yang
nantinya pun akan kita mewariskan kepada generasi berikutnya. Salah satunya
caranya yaitu melalui kata-kata dan naskah tulisan yang kita hasilkan pada saat
ini. Semakin aktif dan banyak kita menghasilkan karya dalam bentuk tulisan maka
semakin banyak yang akan kita wariskan kepada generasi selanjutnya, begitu juga
sebaliknya.
Maka tidak salah kalau dikatakan
dengan menulis kita bisa membangun sebuah sejarah peradaban yang sangat otentik
dan akan dikenang sepanjang abad.Tulisan kita akan dibaca oleh banyak orang,
kemudian diajarkan kepada orang sehingga nama kita terdengar keseluruh
masyarakat Indonesia.
Mahasiswa Jurusan Hukum keluarga Islam IAIN Lhokseumawe semester 4
Ketua Umum HmI Komisariat Syariah IAIN Lhokseumawe
Alumni SPMA Lhokseumawe